Laki-laki sejati

Contoh Sikap Lelaki Jantan

1. Seorang Mukmin Dari Keluarga Fir’aun

Seorang mukmin yang berasal dari keluarga Fir’aun adalah satu-satunya yang yang beriman, dan dia adalah seorang lelaki yang sebagaimana Allah swt sebutkan dalam Al Qur’an:

“Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya berkata: "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: "Tuhanku ialah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu". Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta” (Surat Ghofir: 28)

lihatlah pemuda ini, dia berdiri dengan tegak bagaikan sebuah gunung, ia menampakkan keimanannya pada saat keimanan itu harus ditampakkan dan dimunculkan, ia juga berdiri dihadapan thoghut yang mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan dihadapan manusia yang bertindak dengan segala bentuk kejelekan, pemuda itu melangkahkan kakinya untuk mengingatkan kaumnya dan menakuti mereka dengan adzab Allah swt, ia juga menyeru mereka kepada Allah swt dan agar beriman kepadaNya tanpa mensekutukanNya. Akan tetapi lain halnya dengan kaumnya, mereka malah menyeru pemuda tadi kepada kekafiran dan syirik kepada Allah swt, dan ketika pemuda itu memanggil mereka menuju surga dan ampunan dari Allah swt, mereka membalasnya dengan seruan menuju neraka dan sejelek-jelek tempat kembali. Kejadian seperti ini terjadi berulang-ulang dari tahun ke tahun dihadapan para thoghut.

2. Muhammad Al Fatih

Yang termasuk kategori lelaki jantan adalah seseorang yang disabdakan oleh Rosululloh saw, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam Musnadnya :

Artinya : Dari ‘Abdullah bin Bisyr Al Khots’amiy dari Ayahnya, bahwasanya ia mendengar Rosululloh saw bersabda : “Sungguh Qusthonthiniyyah (Konstantinopel) akan terbuka/dimenangkan (menjadi milik Islam), maka sebenar-benar nikmat pemimpin adalah pemimpin dari Qusthonthiniyyah, dan sebenar-benar nikmat tentara adalah tentara itu (yang memenangkan Qusthonthiniyyah)” [1]

Seorang anak kecil yang bernama Muhammad Al Fatih mendengar hadis ini, dan hadis ini menjadi sangat terkesan dalam benak anak tadi hingga ia tumbuh besar, sampai pada masa ia berumur 17 musim semi tibalah waktunya untuk merealisasikan mimpi kaum muslimin saat itu, bahkan juga untuk merealisasikan hadis Rosululloh saw yang ia dengar tadi.

Sebenarnya kaum muslimin telah berulang kali mencoba membuka kemenangan di Qusthonthiniyyah (Konstantinopel), bahkan peperangan dengan Qusthonthiniyyah ini dimulai sejak abad pertama. Banyak sekali para shahabat yang terbunuh dalam peperangan dengan Qusthonthiniyyah, sampai-sampai seorang shahabat besar yang bernama Abu Ayyub AL Anshori –semoga Allah swt meridhoinya- pun meninggal dalam kibaran peperangan melawan Qusthonthiniyyah. Dan barulah kemenangan terhadap kota itu terwujud pada masa kesultanan Utsmani yang ia adalah senikmat-nikmatnya seorang pemimpin dan juga sebenar-benarnya nikmat para tentara, inilah sosok lelaki sejati dengan segala macam makna kejantanan yang ada.

3. Sayyid Quthb (Penulis Tafsir Fi Dhilali Al Qur’an)

Sebuah contoh keteladanan sosok lelaki sejati adalah sebagaimana sikap seorang pengarang sekaligus penulis buku tafsir Fi Dhilali Al Qur’an yaitu Sayyid Quthb –semoga Allah swt merahmatinya- saat beliau diminta untuk meneguhkan budak yang rugi dengan perkataan yang ditulisnya: “Sesungguhnya telunjuk jari yang digunakan setiap hari dalam sholat untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah swt dan Muhammad saw adalah Rosul-Nya, tidak mungkin bisa kau tulis menjadi hikayat yang penuh dengan kehinaan atau berubah dengan kalimat yang baru

Suatu hari ketika beliau digiring ke tiang gantungan pada tanggal 29 Agustus tahun 1966 masehi, biasanya akan datang seorang syeikh untuk mengajarkan dua kalimat syahadat kepada orang yang terhukum hukuman mati, maka Sayyid Quthb berkata kepada syeikh: “Sesungguhnya aku tidak akan berada dalam kondisi seperti ini kecuali pasti dikarenakan kalimat ‘laa ilaha illa Allah’ dan ‘Muhammad adalah Rosul-Nya’, banyak sekali manusia yang makan roti dengan menggunakan kalimat ‘laa ilaha illa Allah’ dan ‘Muhammad adalah Rosul-Nya’, sedang yang lain mengorbankan kepala mereka di atas tiang gantungan karena kalimat ‘laa ilaha illa Allah’ dan ‘Muhammad adalah Rosul-Nya’” Inilah kejantanan sejati yang sebenarnya, sebagaimana firman Allah swt:

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu[2] dan mereka tidak merobah (janjinya)” (Surat Al Ahzab: 23),

ketahuilah inilah kejantanan sejati yang sebenarnya.

4. Anak-Anak Kecil Pelempar Batu

Perbincangan tentang kejantanan saat ini akan mengingatkan kita pada kisah anak-anak kecil yang melemparkan batu-batu kerikil, mereka adalah anak-anak kecil bila diukur dengan badannya namun mereka adalah pahlawan besar dengan perbuatan yang mereka lakukan, mereka adalah para pemuda bila dilihat dari sikapnya, merekalah yang dengan gigih telah merealisasikan sifat kejantanan yang sebenarnya, mereka telah terdidik di ruangan Qur’an, berjihad di jalan Allah swt, dan sebagian dari mereka berjihad dengan ucapan yang merintih-rintih, ungkapan-ungkapan yang melas, bahkan sebagian dari mereka belum melaksanakan sholat karena umur mereka belum sampai pada taraf pemuda baligh, merekalah anak-anak pelempar batu.

Kejantanan sejati pasti menolak segala bentuk pelanggaran dan menolak untuk menyerah kepada orang-orang yang melampaui batas, mereka tidak akan takut dengan letusan-letusan peluru dan bom, bahkan mereka akan menantangnya dengan dada dan hati mereka sampai mereka bisa membebaskan kota Quds yang mulia, inilah semangat seorang laki-laki yang menolak segala bentuk kehinaan dan penindasan. Mereka adalah anak-anak yang ayah mereka telah dibunuhi, rumah mereka dihancurkan, dan mereka dengan mata mereka sendiri melihat kejadian itu, sehingga saat ini mereka tidak mempunyai apapun kecuali batu kerikil, akan tetapi dengan jiwanya yang matang mereka menantang tank-tank penjajah dengan tanpa rasa takut dan khawatir sedikitpun. Ibu mereka akan memberkahi langkah-langkah mereka kerena sesungguhnya kenikmatan dan kesenangan hati mereka adalah pada saat kematian dan syahid.

Kesabaran rakyat Palestina telah berlangsung lama, mereka banyak berkurban dengan jasad dan darah mereka tercecer di atas bumi mereka sendiri. Dengan bebatuan dan tongkat-tongkat yang mereka miliki, mereka berdiri dengan gagah berani melawan para penjajah yang selalu merampas harta, membunuhi warga sipil, melanggar kesepakatan, dan memungkiri perjanjian.

"Sekali-kali tidak akan putus asa dari kenikmatan Allah kecuali orang-orang kafir"

5. Umar Bin Khottob –semoga Allah swt meridhoinya-

Islamnya Umar bin Khottob –semoga Allah swt meridhoinya- merupakan kejadian yang besar, kejantanannya terlihat jelas saat awal ia masuk ke dalam agama islam, maka setelah kejadian itu kaum muslimin tidak lagi takut untuk menampakkan agamanya, Ibnu Mas’ud –semoga Allah swt meridhoinya- berkata :

Artinya : Dari ‘Abdillah bin Mas’ud –semoga Allah swt meridhoinya- ia berkata : “Kita menjadi sangat kuat semenjak islamnya Umar bin Khottob –semoga Allah swt meridhoinya-” (Hadis riwayat Bukhori)

Kejantanan Umar bin Khottob –semoga Allah swt meridhoinya- tidak terletak pada kekuatan badannya dan kekuatan firasatnya, karena sesungguhnya ada orang kafir quroisy yang lebih kuat darinya. Akan tetapi kejantanannya terletak pada kekuatan imannya yang sangat teguh, dan jiwanya yang kuat membuatnya mampunyai kemampuan dan kebesaran. Pada saat para shahabat berhijroh dengan diam-diam dan takut, Umar bin Khottob dengan menyandang pedangnya pergi ke ka’bah musyarrofah dan melakukan thowaf serta sholat di maqom, kemudian ia mengumumkan kepada seluruh masyarakat makkah bahwa ia akan berhijroh ke madinah dan berkata kepada mereka: “Barang siapa yang menginginkan ibunya menjadi orang yang kehilangan anaknya, anaknya menjadi yatim, dan istrinya menjadi janda maka temuilah aku di belakang lembah ini” akan tetapi tidak ada seorang pun dari kalangan kafir yang berani menerima tantangan Umar bin Khottob –semoga Allah swt meridhoinya-. Beliau juga meletakkan dasar-dasar pendidikan kejantanan dengan perkataannya: “Ajarkanlah kepada anak-anak kalian memanah, renang, naik kuda, dan riwayatkanlah kepada mereka syair-syair yang indah

6. Pemuda Yang Tawadhu’ Dan Tidak Takabur

Suatu hari seorang tamu datang ke rumah Umar bin Abdul Aziz, dan saat itu lentera yang ada di rumah beliau hampir padam, maka sang tamu berkata: “Wahai Amirul Mukminin biarkan aku berdiri untuk memperbaiki lentera itu” maka Umar bin Abdul Aziz berkata: “Tidaklah merupakan sebuah kehormatan bagi seseorang apabila ia membuat tamunya yang bekerja (sibuk)” kemudian beliau ingin membangunkan puteranya akan tetapi karena ia baru saja memulai tidur maka beliau sendiri yang bangun untuk memperbaiki lentera tersebut dan kemudian kembali duduk. Maka sang tamu berkata dengan terheran-heran kepada beliau: “Seorang amirul mukminin (pemimpin kaum mukmin) yang bernama Umar bin Abdul Aziz memperbaiki lentera rumahnya sendirian ?!” maka beliau berkata: “Ya sayalah yang memperbaiki lampu itu, dan saya Umar bin Abdul Aziz dan saya tetap terhitung sebagai Umar bin Abdul Aziz, dan tidaklah pekerjaan yang baru saja saya kerjakan ini membuat kemampuanku berkurang bahkan hal ini disisi Allah swt terhitung bertambah, maka barang siapa bertawadhu’ karena Allah swt maka Dia akan mengangkat derajatnya

7. Pemuda Yang Memberi Maaf Dan Tidak Mendendam

Masthoh bin Utsatsah adalah termasuk salah seorang yang membincangkan urusan ‘Aisyah –semoga Allah swt meridhoinya- saat terjadinya peristiwa haditsatul-ifki, ringkasan peristiwa tersebut adalah: ‘Bahwasanya Rosululloh saw apabila hendak keluar untuk berperang maka beliau mengadakan undian untuk para istrinya, dan apabila undian telah jatuh ke tangan salah satu istrinya beliau akan bersafar bersama istrinya tersebut agar ia dapat membantu perjalanan Rosululloh saw, dan saat itu undian jatuh ke tangan ‘Aisyah –semoga Allah swt meridhoinya-’

Ketika pasukan sudah selesai berperang dan hendak pulang, ‘Aisyah keluar untuk menyelesaikan keperluannya pada saat pasukan sedang istirahat dan ketika ia kembali ke ia mendapati pasukannya telah berangkat kembali, maka ia pun menunggu di tempatnya, kemudian ada salah seorang shahabat yang bernama Shofwan bin Al Mu’thil yang bertugas sebagai pasukan terakhir yang menunggu apabila ada pasukan yang tertinggal atau ada barang berharga yang tertinggal maka dialah yang bertanggung jawab untuk membawanya. Ketika ia melihat ‘Aisyah –semoga Allah swt meridhoinya- yang saat itu belum diwajibkan baginya untuk berhijab, ia berkata kepadanya: “Wahai Ummul Mukminin, kemarilah!” kemudian Shofwan membungkukkan ontanya sehingga ‘aisyah bisa menaikinya dan bisa menyusul kembali pasukan.

Ketika pasukan muslimin telah sampai, mereka mencari-cari sekedup (tenda di atas unta yang biasanya digunakan untuk kaum perempuan) yang didalamnya ada ‘Aisyah, namun mereka tidak mendapatinya, dan tidak berselang lama kemudian Shofwan bin Al Mu’thil datang dengan mengendalikan onta yang diatasnya ada ‘Aisyah, maka bergosiplah sang pentolan kaum munafiqin ‘Abdullah bin Ubay bin Salul, ia memfitnah dan menciderai kehormatan Rosululloh saw dengan mengatakan bahwa ada hubungan tersendiri antara ‘Aisyah dan Shofwan bin Al Mu’thil –semoga Allah swt meridhoi mereka-

Salah seorang yang terpengaruh dengan fitnah tersebut adalah Masthoh bin Utsatsah, ia adalah seorang yang faqir yang Abu Bakar As Shiddiq –semoga Allah swt meridhoinya- memberinya infaq, namun ia memfitnah puterinya ‘Aisyah binti Abu Bakar, dan setelah turun ayat di dalam surat An Nur yang membebaskan tuduhan–tuduhan miring terhadap ‘Aisyah, Abu Bakar As Shiddiq bersumpah untuk tidak memberikan infaq kepada Masthoh bin Utsatsah setelah ini selama-lamanya, maka Allah swt menurunkan ayat:

Artinya: “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Surat An Nur: 22)[3]

Mendengar ayat ini Abu Bakar As Shiddiq –semoga Allah swt meridhoinya- berkata: “Ya wahai Robbku aku menyukai agar Engkau memberi kami ampunan” dan beliau pun kembali berinfaq kepada Masthoh bin Utsatsah.

8. Pemuda Yang Tidak Dipalingkan Dan Dilalaikan Dengan Perdagangan

‘Amru bin Dinar berjalan bersama Salim bin ‘Abdulloh –semoga Allah swt merahmati mereka-, ‘Amru berkata: “Saya bersama Salim bin ‘Abdullah ingin pergi ke masjid, kami melewati sebuah pasar di Madinah, seluruh manusia saat itu sudah pergi melaksanakan sholat dan mereka hanya sebatas menutupi harta dan perhiasan mereka

Saat itu Salim melihat perhiasan mereka tidak dijaga oleh siapapun, tidak ada seorang pun yang duduk di depan perhiasan-perhiasan mereka untuk menjaganya atau sekedar melihatnya atau sekedar menutup toko-toko mereka kemudian duduk di atas sebuah batu di pinggir jalan untuk menunggu sampai selesainya sholat dan salah seorang pemilik toko membuka kembali tokonya. Namun mereka tidak melakukan hal itu bahkan bersegera meninggalkan perhiasan dan perdagangannya di jalan, sebatas menutupnya di tengah-tengah pasar, dan kemudian mereka pergi ke masjid.

Melihat orang-orang meninggalkan perhiasan mereka Salim bin ‘Abdullah membaca sebuah ayat:

laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (An Nur: 37)

kemudian ia berkata: ‘Merekalah orang-orang yang disebut di dalam ayat ini’

Merekalah orang-orang yang disebut dan dimaksud oleh Allah swt dalam ayat ini, karena mereka mengutamakan keinginan Allah swt dari keinginan mereka, mereka lebih mengutamakan ketaatan kepada Allah swt dari seluruh perhiasan duniawi yang fana, mereka mengutamakan untuk menjawab seruan adzan ‘Hayya ‘Ala As Sholat’ dan ‘Hayya ‘Ala Al Falah’ dari seruan ketamakan dan keserakahan yang dihembuskan syaithon dan juga dari nafsu yang senantiasa menyeru kepada kejelekan.

Subhanallah Maha Suci Allah dari segala kejelekan, betapa banyak pemuda saat ini yang hanya sekedar duduk-duduk di warung dan toko mereka, bahkan masuk di kamar yang tersembunyi. Ada juga yang sekedar duduk di kantornya di belakang meja panjangnya sambil menjawab telepon sedang ia adalah seorang laki-laki, pekerjaannya sebatas mengangkat dan menerima telepon, meneriakkan dan merendahkan suaranya di telepon, namun ia meninggalkan masjid, tidak menjawab seruan dari Allah swt yang datang kepadanmya, kenapa harus terjadi semacam ini wahai saudaraku? Apakah pantas mereka dikatakan sebagai seorang laki-laki? Sekali-kali tidak, mereka bukanlah lelaki namun orang yang mirip laki-laki.



[1] Hadis riwayat Ahmad

[2]Maksudnya menunggu apa yang telah Allah janjikan kepadanya.

[3] Ayat ini berhubungan dengan sumpah Abu Bakar –semoga Allah swt meridhoinya-. bahwa dia tidak akan memberi apa-apa kepada kerabatnya ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri 'Aisyah. Maka turunlah ayat ini melarang beliau melaksanakan sumpahnya itu dan menyuruh mema'afkan dan berlapang dada terhadap mereka sesudah mendapat hukuman atas perbuatan mereka itu.

0 Comments:

Post a Comment